Pendidikan Konservasi di Renah Kemumu dan Tanjung Kasri

Pendidikan Konservasi di Renah Kemumu dan Tanjung Kasri

Malam baru saja beranjak pergi, aroma segar embun pagi dan sayup jeritan Siamang membangunkan Kami. Segera Kami beranjak menuju sungai anak Batanghari, membersihkan badan seperlunya, mengambil air untuk menyeduh mie dan kopi sarapan pagi. Setelah beristirahat satu malam di Atap Seng (pondok singgah para pengangkut kayumanis di dalam hutan) tenaga Kami pulih kembali. Selesai merapihkan peralatan kemah Kami melanjutkan perjalanan, bergerak menembus kabut tipis di sepanjang punggung bukit barisan.
Sergapan hawa dingin yang menusuk tulang tidak Kami hiraukan.  Kami harus cepat bergerak, waktu tempuh normal sampai desa satu hari penuh, satu atau dua jam saja Kami terlambat, berarti satu malam lagi Kami harus menginap dihutan. Terlalu riskan jika tetap berjalan di hutan pada saat hari mulai gelap ditengah kabut pekat dan jalur terjal.

Tujuan perjalanan Kami adalah Desa Renah Kemumu dan Tanjung Kasri, 2 desa yang terletak tepat di tengah kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat. Termasuk dalam wilayah Kabupaten Merangin – Jambi. Jarak  yang harus di tempuh sekitar 25 km, terhitung dari Desa Lempur Mudik-desa terakhir yang berbatasan dengan kawasan taman nasional. Satu-satunya akses hanya bisa dilakukan dengan berjalan kaki dan membutuhkan waktu 1 hari 1 malam, menembus lebat hutan bukit barisan. Team kami berjumlah 3 orang dibantu 2 orang porter (pengangkut barang).

Selama 2 minggu kami akan melakukan kegiatan pendidikan lingkungan. Belajar, berbagi pengalaman dan berkreativitas bersama anak-anak Sekolah Dasar di 2 desa tersebut. Hampir 6 bulan kegiatan telah berjalan, total tenggat waktu yang direncanakan adalah 1 tahun. Pendidikan konservasi di 2 desa ini merupakan bagian dari kampanye kesadaran konservasi untuk masyarakat sekitar TNKS. Dibawah koordinasi KS-ICDP Kerinci Seblat Integrated Conservation Development Project, yang didanai Asean Development Bank bekerjasama dengan Departemen Kehutanan.

Waktu menunjukkan pukul 15.00 WIB saat kami sampai di sumber air panas hulu sungai Batanghari. Sudah 9 jam perjalanan kami lewati, naik turun bukit, menerobos lebat ilalang untuk memotong jalan dan sesekali beristirahat di rumah ladang penduduk.

No Comments

Leave a Comment

line